RESENSI "Less Sensitive" AI ZAHROTUN NISA XII.3

 


RESENSI LESS SENSITIVE 

   
                                                     

 

Identitas buku :

Judul : Less sensitive

Penulis: Restia ningrum

Penerbit: Anak hebat Indonesia

Tahun terbit: Mei 2023

Kota terbit yogyakarta

Jumlah halaman 121 halaman

ISBN: 978-623-400-568-4

Pendahuluan :

buku Less Sensitive: Seni Hidup Tanpa Kebanyakan Baper membahas dua jenis kepribadian: yang sensitif dan yang tidak terlalu sensitif (less sensitive). Buku ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa kedua karakter tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta menawarkan panduan praktis untuk mengelola sensitivitas agar tidak menghambat kehidupan sehari-hari, terutama bagi individu yang cenderung “baperan”.

 

Ringkasan isi buku :

Memahami sensitivitas: Buku ini mengajak pembaca untuk mengenali dan menerima sifat sensitif sebagai bagian dari diri mereka. Dijelaskan bahwa menjadi sensitif tidak selalu salah, karena individu yang sensitif sering kali sangat peduli pada perasaan orang lain.

Mengatasi "baper": Banyak orang sensitif yang mudah "baper" (terbawa perasaan) terhadap komentar atau candaan orang lain. Buku ini memberikan strategi praktis untuk mengatasi perasaan tersebut agar tidak memengaruhi emosi dan keputusan secara berlebihan.

Perbandingan karakter: Restia Ningrum membandingkan karakter yang sensitif dan yang lebih santai (kurang sensitif). Ia menjelaskan bahwa kedua karakter ini bukan tentang mana yang lebih baik atau lebih buruk, melainkan tentang memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Menghadapi berbagai tipe orang: Pembaca akan belajar cara berinteraksi dengan berbagai tipe orang, mulai dari yang serius hingga yang santai, dan memahami perbedaan cara pandang mereka. Ini membantu orang sensitif agar tidak terlalu memikirkan hal-hal sepele yang diucapkan orang lain.

Meningkatkan kualitas hidup: Tujuan utama buku ini adalah membantu pembaca yang sensitif menjalani hidup yang lebih tenang dan bahagia. Pembaca diajarkan untuk mengelola emosi, menenangkan diri saat merasa kewalahan, dan tidak membiarkan sensitivitas menjadi penghambat.

Pengembangan diri: Secara keseluruhan, buku ini adalah panduan untuk belajar memahami diri sendiri dan orang lain, serta cara menghadapi interaksi sosial dengan lebih baik tanpa merasa mudah tersakiti.

Kelebihan buku :

1.      Memahami diri sendiri: Menyadari bahwa sensitivitas adalah karakteristik pribadi, bukan kelemahan.

2.      Mengembangkan kemampuan mengelola emosi: Belajar menyeimbangkan kepekaan dan menjaga ketenangan batin.

3.      Memperbaiki hubungan sosial: Mengetahui cara berinteraksi yang lebih baik dengan orang lain, termasuk pasangan.

4.      Mencapai ketenangan batin: Memperluas sudut pandang agar tidak terlalu berfokus pada hal-hal kecil.

Kekurangan buku :

1.      Potensi salah tafsir: Pembaca bisa keliru menganggapbahwa buku ini mengajak untuk menghilangkan kepekaansepenuhnya, bukan sekadar mengelolanya.

2.      Pembahasan dangkal: Dibanding buku psikologi lainnya, buku ini tidak mendalami akar psikologis sensitivitas, melainkan lebih fokus pada tips praktis.

3.      Bahasa sederhana: Gaya bahasa yang mudah dimengerti mungkin terasa kurang menantang bagi sebagian pembaca yang terbiasa dengan bacaan lebih kompleks, dan masih ada kesalahan pengejaan.

4.      Fokus terbatas: Buku ini secara khusus menyasar pembaca yang mudah terbawa perasaan, sehingga kurang relevan bagi mereka yang tidak menganggap diri terlalu sensitif.

Kesimpulan :

Seni Hidup Tanpa Kebanyakan Baper karya Restia Ningrum adalah bahwa sifat sensitif bukanlah suatu kekurangan yang harus dihilangkan, melainkan sebuah karakteristik yang perlu dipahami dan dikelola dengan bijak.

Menerima diri sendiri: Buku ini menekankan pentingnya menerima diri sebagai pribadi yang sensitif. Alih-alih merasa malu atau minder, pembaca diajak untuk melihat sensitivitas sebagai bagian dari diri yang memiliki kelebihan, seperti lebih peduli terhadap perasaan orang lain.

Mengatasi "baper": Pembaca diberikan panduan praktis untuk mengendalikan perasaan negatif yang muncul akibat "baper". Tujuannya bukan untuk menghilangkan kepekaan, melainkan untuk mencegahnya mengendalikan emosi dan memengaruhi kualitas hidup secara berlebihan.

Memahami orang lain: Penulis mengajak pembaca untuk memahami bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda, baik yang serius, santai, sensitif, maupun cuek. Dengan memahami perbedaan ini, orang yang sensitif bisa menyikapi interaksi sosial dengan lebih baik dan tidak terlalu mengambil hati setiap ucapan atau candaan orang lain.

Menemukan kekuatan: Sifat sensitif, jika dikelola dengan benar, dapat menjadi kekuatan. Buku ini menunjukkan bahwa orang yang sensitif cenderung lebih empatik dan intuitif, yang bisa bermanfaat dalam hubungan personal maupun profesional.

Meningkatkan kualitas hidup: Pada akhirnya, tujuan dari semua pelajaran dalam buku ini adalah membantu orang yang sensitif menjalani hidup yang lebih tenang, bahagia, dan produktif. Sensitivitas tidak lagi menjadi penghambat, melainkan alat untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI "Control Your Attitude" ATAREVAN AKBAR DERIO XII.3

RESENSI " Hidup Tak Selalu Baik-Baik Saja" GLADYS CITRA PURNAMA XII.3

RESENSI "Bertumbuh Mengenal Diri Sendiri" R. NAZWA AULIA NISSA XII.3