RESENSI "Mengapa Harus Berserah" MUHAMMAD RIZKI RAMADHAN XII.3
+>----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------<+
+) 0. Gambar:
+) 1. Identitas Buku:
- Judul Buku: Mengapa Harus
Berserah, Panduan Menyenangi setiap
Kenyataan.
- Pengarang: Ibn Athaillah
al-Sakandari
- Penerbit: Serambi
- Tahun Terbit: 2006
- Jumlah Halaman: 335
- ISBN: 978-979-1275-43-9
+) 2. Pendahuluan:
Apakah
anda mempunyai begitu banyak pikiran dan kesibukan sehingga rasanya menjauh
dari Allah SWT, tetapi tidak bisa berhenti karena bisa dianggap kemalasan?
Sering kali, hal ini terjadi karena kita lebih memprioritaskan penyelesaian
urusan duniawi dibanding memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Buku “Mengapa
Harus Berserah: Panduan Menyenangi Setiap Kenyataan” karya Ibn Athaillah
al-Sakandari hadir sebagai panduan untuk memandang hidup dengan cara yang lebih
tenang dan penuh makna. Penulis mengajak kita memahami bahwa berserah diri
kepada pengaturan Allah SWT bukanlah tanda kemalasan, melainkan bentuk keimanan
yang mendalam dan ketenangan hati dalam menerima setiap ketetapan-Nya.
+) 3. Isi Resensi:
a.
Ringkasan buku:
Isi buku ini
membahas secara mendalam mengapa kita tidak seharusnya ikut mengatur hidup
dengan kehendak sendiri, melainkan berserah diri kepada pengaturan Allah SWT.
Ibn Athaillah menjelaskan bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah dengan
sebaik-baiknya, dan tugas manusia hanyalah berusaha serta percaya kepada-Nya.
Buku ini juga menekankan bahwa berserah diri bukan berarti pasif, tetapi justru
membuat hati lebih tenang dalam menghadapi kenyataan hidup yang kadang tidak
sesuai keinginan.
b.
Kelebihan:
-
Daftar isinya langsung ke pokok
bahasan, banyak diambil dari kalimat Al-Qur’an dan hadis.
-
Bahasanya lembut dan menenangkan,
memberi rasa seperti sedang dinasehati secara pribadi.
-
Setiap bagian membawa renungan
baru yang bisa membantu pembaca lebih memahami makna tawakal dan sabar.
c.
Kekurangan:
-
Membutuhkan penalaran yang besar,
karena beberapa bagian memakai bahasa tasawuf klasik yang agak sulit dipahami
bagi pembaca umum.
-
Mungkin membutuhkan bimbingan atau
penjelasan dari orang yang lebih paham agar bisa mengerti keseluruhan isi buku
ini.
d.
Kutipan penting:
-
“... , pengabdian kita kepada
Allah seharusnya tidak hanya ditunaikan dengan menjalankan kewajiban, yakni
segala yang diperintah-kan Allah, namun pula dengan menjalani ketetapan, yakni
segala yang ditentukan Allah SWT.”
-
“..., sibuk mengatur nasib sendiri
sejatinya adalah tin-dakan yang kurang-lebih sia-sia, apalagi bila kesibukan
ini melalaikan kita dari tugas-tugas sebagai hamba.”
-
“Dari segi”cara hidup”, baik orang
yang berserah ataupun orang yang tidak berserah nyaris tiada bedanya. Yang
membedakan mereka adalah cara mereka memandang, merasa, dan menyikapi hidup.”
+) 4. Kesimpulan:
Buku
ini cocok untuk siapa pun yang merasa lelah dalam menjalani hidup atau terlalu
terbebani dengan urusan dunia. Melalui kata-kata Ibnu Athaillah, kita
diingatkan kembali bahwa berserah diri bukan berarti berhenti berusaha, tetapi
menenangkan hati dengan keyakinan bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah
dengan penuh hikmah. Buku ini membantu pembaca menemukan kembali rasa ikhlas
dan tenang dalam menghadapi kenyataan hidup.
+) 5. Identitas:
- Nama:
Muhammad Rizki Ramadhan
- Kelas: IPA
XII. 3
- Sekolah: SMA
Mhartia Bhakti
Komentar
Posting Komentar